Kamis, 27 Januari 2011

Petualangan Di Lemari 4 Alalak


Penerimaan Siswa baru di SMP N 4 Alalak terbilang sangat sederhana, sebabnya penerimaan ini adalah yang pertama kalinya di SMP N 4 Alalak tahun pelajaran 2009- 2010. Enam orang anak yang bernama Wida, Rizka, Nida, Tria , Salehah, dan Mega mrndaftar di SMP yang sama.

Pendaftaran dan MOS pun usai tak ada yang istimewa di acara- acara itu. Tetapi, saat waktu istirahat sekolah. Secara tiba-tiba dan tanpa disengaja mereka bertemu dan saling berkenalan.

Siang berganti malam, malam berganti hari, hari berganti musim, musim berganti tahun mereka lewati dengan suka cita. Tanpa terasa sekarang mereka duduk di kelas VIIIB dan mereka bertemu masih dalam satu kelas.

Di sekolahan Wida, Rizka, Nida, Tria, Salehah, dan Mega terkenal sebagai murid yang cukup usil. Tetapi, dalam pelajaran mereka terkenal akan prestasinya seperti Wida, dia menjadi juara kelas dan juga pengurus OSIS. Salehah, dia juga menjadi pengurus OSIS. Tria, Rizka, Nida, dan Mega mereka menjadi pengurus kelas.

Suatu hari, disaat semua orang sudah pulang dari sekolah, entah mengapa mereka tetap tinggal di sekolah itu dengan alasan ingin membersihkan kelas.
Setelah itu mereka langsung membersihkan kelas dan membagi tugas masing- masing. Wida, bertugas mengangkat kursi dan menatanya. Rizka, bertugas menyirami bunga dan menatanya juga. Sedangkan Mega, Nida, Tria mereka bertugas menyapu kelas.

Setelah kelas bersih, mereka bergegas untuk pulang. Mega, ingin ke kamar kecil untuk menyelesaikan hajatnya. Setelah menyelesaikan hajatnya, Mega keluar dari kamar kecil itu dan ia mendengar suara gaduh di kamar ganti perempuan, hasrat ingin taunya pun memancing ia untuk mengetahui apa yang ada d dalam kamar ganti perempuan itu. Sesegera mungkin Mega memanggil yang lainnya untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya, mulanya yang lain menertawakan Mega dan tidak percaya perkataannya. Tetapi, mereka ternyata percaya karena mereka sendiri yang mendengar suara itu. Ternyata, mungkin suara itu tidak sabar lagi untuk menyuruh mereka ke dalam ruang ganti itu.

Mereka berlima pun sesegera mungkin ke ruang ganti untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Maklum saja, karena mereka memang mempunyai rasa ingin tau yang tinggi.

Setelah mereka sampai di depan pintu ruang ganti itu, suara gaduh itu makin keras terdengarnya. Nida pun takut dan dia beranggapan bahwa itu adalah suara hantu, membuat hati kami yang tadinya kuat seperti batu berubah menjadi busa yang rapuh. Tetapi, kami mencoba untuk kuat dan berusaha menenangkan Nida. Setelah kami bujuk, akhirnya Nida pun menjadi tegar kembali dan ia memutuskan untuk ikut membuka pintu itu. Dengan hati yang sangat takut, pelan-pelan, hati-hati, dan ingin tau dengan apa yang ada di dalamnya mereka segera membukanya. Ternyata, apa yang ada di dalamnya tak seperti yang kami bayangkan. Kami kira yang ada di dalamnya sangat menakutkan seperti hantu atau yang lainnya. Tetapi, ternyata di dalamnya tidak ada apa-apa, suara Yang kami dengar tadi seolah tidak pernah ada bahkan tidak pernah terjadi, suasana ruang ganti itu kelihatan seperti biasa-biasa saja. Tiba- tiba, penglihatan Wida tertuju kepada lemari tua yang bewarna hitam kusam dan terkunci rapat seolah-olah ada sebuah rahsia yang ada di balik lemari tua itu. Wida pun memanggil teman-temannya untuk membuka lemari itu, teman-temannya pun setuju dengan ide Wida. Tetapi, saat mereka mencoba untuk membukanya sangat sulit lantaran kuncinya sudah berkarat dan gemboknya terlihat sangat kuat. Salehah melihat kapak dan mencoba untuk membukanya dan ternyata berhasil terbuka. Isinya pun ternyata tidak ada yang istimewa, isinya hanyalah tumpukan kardus-kardus yang kusam. Untuk yang kedua kalinya yang mereka dapatkan hanyalah letih. Mereka memutuskan untuk pulang kerumah, saat yang lain sudah di depan pintu ingin keluar. Rizka pun masih penasaran dengan apa yang ada di dalam lemari itu, tanpa pikir panjang lagi Riska langsung menyingkirkan kardus itu dan memanggil teman-teman yang lainnya. Awalnya mereka tidak percaya lagi dengan hal yang di sebut Rizka. Tetapi, entah mengapa mereka langsung berbalik dan segera menghampiri Rizka.

Mereka menuju lemari tua itu, tanpa pikir panjang lagi, Wida langsung mengambil sisa kardus yang masih berada di lemari itu dan seketika lemari itu terlihat seperti lemari yang menghubungkan antara Alalak dengan dunia lain yang berada di balik lemari itu.

Setelah mengatahui bahwa lemari tua itu menghubungkan antar alam. Dengan rasa takut, senang, atau yang bisa di sebut “Meidley of the heart” atau juga di sebut peresaan yang campur aduk, mereka menjalani lemari itu. Kurang lebih beberapa meter mereka dari lemari itu menuju alam lain, mereka langsung melihat pemandangan sangat indah. Tetapi, kelihatannya di dunia itu sedang musim salju. Karena, tumpukan salju yang putih menyelimuti dunia itu. Perasaan kami saat itu senang, karena mereka bisa merasakan dinginnya salju yang menusuk ke tulang kami dan juga mereka bisa merasakan bagaimana rasanya menyentuh salju yang tidak akan mungkin pernah muncul di Alalak.

Setelah puas bermain salju di situ. Salah seorang warga di dunia itu mendekati kami. Awalnya, dia dan mereka pun takut untuk saling berinteraksi. Karena, mereka tidak saling kenal. Wida pun memberanikan diri untuk menghampiri orang itu. Akhirnya mereka pun saling berkenalan. Nama orang itu adalah Sapio. Sapio adalah orang yang sangat baik, ia menjelaskan kami tentang seluk beluk dunia ini. Dunia itu bernama Nirvana, dunia Nirvana adalah dunia sangat bagus dan elok seperti namanya, bahasa orang orang di dunia Nirvana itu sama saja dengan bahasa mereka. Tetapi, Sapio mengatakan bahwa sekarang Nirvana sedang mengalami pertengkaran. Pasalnya, sewaktu Nirvana hidup dalam keadaan yang damai negeri Nirvana di pimpin oleh dua orang raja yang sangat berbeda. Tetapi, mereka sangat bersahabat di tengah perbedaan yang dialami. Perbedaan mereka sangat lah banyak Raja Price adalah raja yang menguasai setengah wilayah Nirvana. Sedangkan Raja Drice demikian juga ia menguasai setengah dari wilayah itu, suatu hari, terjadi pertengkaran antara Raja Prince dan Raja Drice, entah apa yangterjadi antara keduanya, seluruh rakyat pun tidak tahu. Itu lah cerita yang di ceritakan Sapio kepada mereka.

Hari menunjukkan semakin gelap, Mereka ingin untuk pergi dan pulang ke rumah. Tetapi, Sapio tidak nenyuruhkan mereka untuk pergi. Pasalnya Nirvana sangat membahayakan pada malam hari jelas Sapio kepada mereka. Meraka pun memutuskan untuk tinggal bermalam di Nirvana.

Pagi pun menjelang. Mereka memutuskan untuk mandi, dan sholat bersama. Penduduk nirvana terheran-heran melihat mereka sholat, maklum saja. Kehidupan Nirvana berbeda dengan kehidupan alam manusia. Setelah selesai sholat merekapun segera pergi dengan Sapio ke Ballest, Ballest adalah tempat perkumpulan kedua kerajaan itu.

Setelah kedua raja itu terkumpul, mereka segera berdiskusi. Keenam anak itu berusaha mengtahui sebab akibat masalah yang terjadi. Setalah mereka tahu masalahnya mereka segera mencari jalan keluar untuk kedua raja itu, semula kedua raja itu menolak. Akhirnya kedua raja itu pun mau mendengarkan keenam anak itu. Lalu mereka pun berdamai

Semua warga Nirvana sangat senang mendengar berita itu. Mereka bersorak gembira, akhirnya kedua kerajaan itu dapat hidup makmur kembali .

Setelah masalah terselesaikan, keenam anak itu memutuskan untuk pulang kembali ke alam mereka. Mereka di lepas hangat oleh warga Nirvana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Transforming Earth